SUPAYA BENAR-BENAR MERDEKA

Selasa, 23 Agustus 2011 0 comments
(Galatia 4:31)
Seorang filsuf asal Perancis bernama Sartre pernah berkata, bahwa manusia itu “dikutuk untuk merdeka.” Manusia bagaikan atlas dalam mitologi Yunani, yaitu dewa yang dikutuk untuk memanggul bola dunia ini. Memikulnya berat, tapi melepaskannya tidak mungkin. Yang mau dikatakannya adalah, bahwa sesuatu yang bernama “merdeka” itu tidak enak, tidak mudah, tidak gampang, serba terikat, dst. Artinya, apabila orang ingin hidup merdeka berarti ia harus mau menanggung beban berat, tidak enak, hidup serba terikat!
Saudara, barangkali kita mengatakan bahwa ahli pikir dari Perancis ini keliru besar untuk memberi makna terhadap istilah “merdeka”  itu. Sebab, bukankah  yang namanya “merdeka”  berarti bebas, tidak terikat, enak, tidak bergantung kepada sesuatu yang lain, lepas dari tuntutan-tuntutan atau kewajiban-kewajiban, dan berdiri sendiri? Kenapa “merdeka” itu  mesti tidak enak, tidak mudah, tidak gampang, tidak bebas, berat dan serba terikat? Lalu merdeka dari apa? Merdeka yang bagaimana? Ini penting! Karena tidak jarang orang-orang Kristen tidak menyadari akan statusnya sehingga tidak tahu bagaimana menjalankan hidupnya sesuai dengan statusnya itu.

Hidup “merdeka” yang sesungguhnya tentu menuntut pola-pola hidup yang sesuai dengan nilai dan hakikat kemerdekaan itu sendiri. Ya, karena ada tanggungjawabnya. Juga ada resikonya! Jika tidak, itu bukanlah bobot kebermaknaan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya. Atau dengan kata lain, dapat berarti menyalahgunakan kemerdekaan itu sendiri. Menyalahgunakan kemerdekaan. Bagaimana misalnya? Nah, ini! Contohnya seperti Herodes dan Pilatus. Yang satu “raja” dan satunya “gubernur jendral”. Mereka adalah orang-orang berkuasa. Palu ada di tangannya. Tapi lihatlah ketika kemerdekaan pribadi dijalankan. Mereka lalu sungguh-sungguh menjadi tidak merdeka. Tidak merdeka memutuskan perkara. Tidak merdeka melaksanakan keadilan. Tidak merdeka untuk berbuat kasih!

Di sinilah masalahnya. Ketika kemerdekaan itu dipahami sebagai kebebasan dan kebahagiaan pribadi, saat itulah justru kebebasan dan kebahagiaan membuat mereka kehilangan makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka mejadi tidak merdeka sebab akhirnya tidak dapat menikmati jamuan di Kerajaan Surga. Coba pula kita saksikan dalam Alkitab, tentang seorang kaya yang merasa bebas merdeka untuk tidak perduli kepada Lazarus yang menderita seperti yang tertulis dalam Injil Lukas 16:24. Ia merdeka untuk menikmati segala kebahagiaannya. Tetapi ketika kebebasan pribadi dijalankan, saat itulah ia diikat menjadi tidak merdeka. Tidak merdeka untuk melakukan kasih.

Dan memang, bila kemerdekaan yang sesungguhnya itu tidak dijalankan secara bertanggungjawab atau disalahgunakan, nah…. disinilah titik awal orang menjadi tidak lagi menjadi sungguh-sungguh merdeka! Apa contohnya? Nah, ini… Ketika orang-orang Kristen merasa bebas memilih. Bebas memilih beribadah atau tidak, memberi persembahan atau tidak, berkorban atau tidak, dst. Melakukan atau tidak melakukan ya dianggap sama saja. Tanpa merasa ada tuntutan apa-apa, tidak ada yang mengikat. Toh saya bebas berbuat, bebas memilih. Pokoknya bebas merdeka! Ya, bebas merdeka! Kelihatannya memang merdeka, tapi sesungguhnya tidak merdeka sebab diperhamba oleh kuasa dosa yang memperbudaknya. Akhirnya ia sungguh-sungguh menjadi tidak merdeka.

Karena tidak menyadari statusnya, ia rela saja menukarkan kemerdekaannya yang paling asasi, yakni keselamatannya dengan kemerdekaan-kemerdekaan yang sementara. Menukarkannya dengan rasa aman yang sementara yang serba mudah, serba enak, serba gampang, serba ringan tanpa resiko. Pokoknya asal bebas merdeka. Lepas dari sesuatu yang mengikat, bebas berdiri sendiri, tidak bergantung kepada sesuatu yang lain. Akibatnya? Tanpa disadari ia lalu dibatasi oleh kebebasannya sendiri dan pada saat itulah ia benar-benar kehilangan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana pula kita memahami akan makna status kita sebagai orang Kristen yang dijuluki sebagai “orang-orang merdeka”? Rasul Paulus sendiri memberikan kiasan kepada orang-orang Kristen sama seperti anak yang dilahirkan oleh perempuan merdeka (artinya dari yang bukan hamba). Rasul Paulus berkata: “Karena itu saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.” (ay.31). Ya, itulah status kita. Sebagai anak-anak merdeka! Tetapi apa arti sebenarnya dari julukan kita sebagai “orang-orang merdeka”? Lalu merdeka dari apa? Merdeka yang bagaimana? Ini penting! Karena tidak jarang orang-orang Kristen tidak menyadari akan statusnya sehingga tidak tahu bagaimana menjalankan hidupnya sesuai dengan statusnya itu.

Memang dalam kenyataannya, masih banyak orang-orang Kristen yang walaupun statusnya adalah “orang-orang merdeka”, namun dalam hidup kesehariannya adalah orang-orang yang hidupnya terkurung dalam kepengepan dan kegelapan. Tidak bebas. Tidak dapat menikmati sukacita serta kebahagiaan dalam kemerdekaan yang sesungguhnya. Statusnya saja sebagai orang-orang merdeka, tapi jiwanya tidak merdeka. Statusnya saja yang mulia namun pribadinya hina. Inilah bahaya terbesar bila orang-orang percaya tidak menyadari status dirinya sebagai orang-orang merdeka dalam arti yang sebenarnya.

Coba kita renungkan keadaan Adam dan Hawa di taman Eden ketika dalam keadaan yang “merdeka” dalam arti yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang diberikan Tuhan sendiri kepada mereka. Tetapi apa yang terjadi ketika kebebasan pribadi dijalankan? Mereka tidak lagi menjadi orang-orang merdeka, tetapi menjadi hamba kuasa dosa dan kematian kekal adalah upahnya. Coba kita renungkan juga tentang orang-orang yang berdalih terhadap tawaran undangan Kerajaan Allah dalam Injil Lukas 14:24. Mereka bebas untuk memilih mana yang mereka anggap menguntungkan. Mereka bebas untuk menolak tawaran undangan, bebas untuk menentukan pilihan. Mereka memang merasa merdeka dan berbahagia. Namun kemerdekaan dan kebahagiaanya sementara.

Dari beberapa contoh dalam Alkitab memperlihatkan kepada kita, ternyata benar apa yang dikatakan Sartre si ahli piker dari Perancis ini tentang pengertian “merdeka”. Bahwa “merdeka” itu berat, tidak enak dan serba terikat. Memikulnya berat, tapi melepaskannya tidak mungkin. Sebab apabila melepaskannya hanya sekedar memperoleh rasa aman, kesenangan dan kebahagiaan sementara, itu berarti kehilangan kemerdekaan yang paling asasi. Kehilangan rasa aman, kesenangan dan kebahagiaan sesungguhnya seperti yang Tuhan kehendaki.

Apa kemerdekaan orang-orang Kristen yang paling asasi? Itu adalah kemerdekaan dari perbudakan dosa yang mengikat. Kemerdekaan asasi itu telah dibayar mahal melalui korban Kristus. Hanya melalui korban Kristuslah manusia beroleh kemerdekaan asasi itu. Alkitab berkata: “Jadi apabila anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yoh. 8:36). Namun untuk tetap memiliki kemerdekaan yang asasi itu memang tidak gampang, tidak enak dan serba terikat. Kenapa biasa begitu? Karena untuk tetap memiliki kemerdekaan yang asasi itu orang harus mengikat kemerdekaan pribadinya yang berbau dosa agar tidak bebas merdeka! Sebab hanya dengan demikianlah orang dapat benar-benar dapat bebas berbuat untuk menjalankan hidup yang baru. Hidup yang telah dimerdekakan.

Menyandang predikat sebagai “orang-orang merdeka” memang berat. Sebab juga ada tanggungjawabnya. Karena orang harus hidup terikat dalam pola-pola hidup kemerdekaan itu. Tentang hal ini Alkitab juga mengatakan: “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka…..” (I Pet. 2:16).Saudara, walaupun predikat kita sebagai “orang-orang merdeka” tidaklah gampang, berat, tidak enak dan serba terikat, namun nilainya sangat mahal. Seperti kata Rasul Paulus bahwa kita akan menjadi ahli waris dari Yerusalem sorgawi yang abadi.

Memahami akan status kita tersebut maka perlu kita memelihara kemerdekaan yang telah kita miliki. Kita tidak akan pernah rela menukarkannya hanya sekedar memperoleh sejumput rasa aman dan kesenangan yang sementara. Dengan demikian kita juga tentu harus bersungguh-sungguh menjalani kemerdekaan asasi yang telah Tuhan berikan secara bertanggungjawab. Bagaimana kita menjalaninya? Nasihat Rasul Paulus penting untuk kita renungkan dan laksanakan: “Saudara-saudara memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Gal. 5:13). Ya, kita merdeka dalam arti yang sesungguhnya apabila kita mau kehilangan kemerdekaan pribadi kita yang dikendalikan oleh “aku”-nya. Atau seperti yang dikatakan oleh DR.Eka Darmaputera bahwa “kita benar-benar merdeka, apabila dengan bebas… bukan karena dipaksa atau terpaksa… kita memanfaatkan kebebasan kita untuk mengabdi, taat, berkorban dan member, juga untuk melayani sesama.” AMIN.
 ________________________
(Oleh: Pdt.Kristinus Unting, STh.,M.Div)
share this with your Friends.

0 comments:

Posting Komentar

 

©Copyright 2011 Renungan Harian Kristen | TNB